Tuesday, May 19, 2020

THR yang TERTUNDA

Te Ha eR yang TERTUNDA


Malam ini, Rina tidak sabar menunggu suaminya. Sudah H-7, biasanya Pak Bos akan memberikan THR-nya. Dalam bayangan Ria, besok akan beli bahan-bahan kue kering. Rasanya tidak sabar mencoba oven pemberian Bu Ida, tetangga sebelah rumah.

Yah, kemarin Bu Ida sudah pulang, suaminya sudah tidak kerja lagi . Sejak dipasang ring pada jantungnya, mereka memilih tinggal di kampung. Rumahnya diberikan pada teman dekatnya untuk dirawat dan tempati.

"Mas, sudah di mana?" tanya Rina pada suaminya, sudah jam delapan tapi belum pulang, akhirnya Rina pun menelpon dia.

"Masih di jalan, ada Ibu-Ibu pingsan, aku membantunya dulu."

Rina pun akhirnya pasrah, jam sepuluh malam, akhirnya Ridwan sampai di kontrakan.

"Kok sampai jam segini? Darimana? Ngapain? Mana THR?" todong Rina tanpa melihat wajah sang suami yang tampak lelah.

"Kamu jangan marah ya, duduk dulu, aku mau cerita."

Rina sudah punya perasaan tidak enak, dan tebakannya betul. THR 800.000 yang biasanya ia terima, telah diberikan pada Ibu hamil yang ditolong Ridwan. Katanya wanita itu datang ke kota dengan suaminya karena mencari orang yang sudah menipu mereka.

Tadi mereka tidak pegang uang sepeser pun, mau memberikan ponselnya anggap mereka menjual ponsel itu. Tapi Ridwan menolak, karena hanya ponsel itu satu-satunya alat penghubung mereka dengan keluarganya.

Rina pun diam, bayangannya untuk membuat kue lebaran, dan mempraktekkan ilmu dari grup masak yang diikutinya gagal.


"Aku ikhlas, Mas. Aku masih bisa buat kue kering lebaran tahun depan kok. Yang penting, orang yang kamu tolong tadi baik-baik."

"Maaf ya ... eh tapi ini ada bahan-bahan kue, dikasih sama Bu Dewi. Katanya dia harus pulang, tapi terlanjur beli bahan."

Rina pun menatap bungkusan besar yang tadi diabaikannya. Segera dibuka, dan matanya langsung membesar.

"Mas ... Mas ... ini ada telur, gula, wisjman, coklat batang, terigu, keju. Alhamdulillah ya Allah. Mas, ini harganya lebih dari 500.000, ya Allah, aku dapat THR dari langit ya Allah." Ridwan yang tidak paham dengan perkataan istrinya hanya bingung. Sementara Rina pun tertawa bahagia.

Paginya, berbekal uang 40.000 ia ke pasar mau mencari nanas. Belum sampai ke pasar, dipanggil Bu RT.

"Rin, sini dulu!" teriaknya.

"Ada apa, Bu?"

"Kamu sudah dapat bantuan, kemarin? Yang sembako sama uang? Kok nggak terlihat di kelurahan."

"Tidak dapat pengumuman, Bu. Lagian, katanya yang orang yang masih kost tidak dapat."

"Kamu ini, makanya bergaul sama tetanggamu. Untung suamimu itu ringan tangan. Ini sembako, sama uangnya 400.000. Aku coret ya namamu, sudah dapat bantuan."

"Wah, Alhamdulillah rejeki lagi Ya Allah," tangis Rina.

"Kamu mau kemana?" tanya Bu RT lagi.

"Ke pasar beli nanas, mau bikin kue kering, belajar, Bu hihihi," jawab Rina malu-malu.

"Itu ada nanas empat besar-besar, bawa sana. Ini uang 100.000, nanti kasih aku nastarmu ya. Ga usah banyak, yang penting rasa," kata Bu RT.

Rina pun benar-benar kegirangan, membawa beras 15kg, juga uang. Tak lupa nanas, dia tiba-tiba memiliki kekuatan super membawa barang-barang itu.

Hari itu dia sibuk bikin selai nanas. Selama dua tahun menikah, mereka belum dikarunia anak. Tak banyak peralatan dapur yang ia punya, karena hanya tinggal berdua. Tapi sekarang dia punya mixer, blender, oven dan beberapa peralatan dapur lainnya. Dia dapatkan gratis.

"Rin, ini aku kasih gratis untuk kamu, kelak jika Allah ijinkan kamu sukses dengan barang-barang ini. Jangan lupa berbagi, ingat di setiap rejeki yang kamu terima, ada rejeki orang lain yang Allah titipkan di sana."

Rina masih ingat pesan dari Bu Ida. Meski beda keyakinan, tapi dia selalu memberi suport yang baik pada Rina. Bu Ida sendiri anaknya sudah besar-besar. Rumah mereka pun ada dua. Tapi entah kenapa memilih pulang ke kampung untuk kesembuhan suaminya.

H-5 akhirnya pagi itu Rina mulai bikin kue, sesuai tutorial yang diajarkan di grup. Akhirnya satu hari itu dapat empat toples kue. Besoknya dia bikin lagi, sampai H-3 dia dapat empat macam jenis kue kering. Masih ada bahan, dia pun mencoba membuat pie susu yang diajarkan Bu Ida. Setiap habis buka puasa, Ridwan tak sabar mencicipi kue buatan istrinya.

Pagi itu, masih ada pie susu atau lontar. Ridwan pun sengaja membawa beberapa potong untuk diberikan pada istri bosnya. H-2 istri si Bos menelpon Rina untuk memesan lontar, tiga.

Dengan penuh semangat, wanita muda itu pun mulai menghitung modal dan laba yang harus dia dapatkan. Setelah dia berikan harga perpiring, Bu haji malah memesan lagi 10 untuk hari raya. Buat hidangan tamu.

Semuanya berawal dari situ, kini lima tahun sudah berlalu, Rina sudah memiliki toko sendiri, kue lontar buatannya sudah terkenal, bahkan bisa untuk oleh-oleh.

Keikhlasan dari suami istri, yang selalu berpikir berkat, atau rejeki itu sudah ditentukan Allah. Apa yang ia berikan dengan ikhlas, Allah kembalikan langsung, bahkan berkali-kali lipat.

"Ibu ..., awas gosoong," teriak anak kecil itu membuyarkan lamunan Rina. Yah gadis kecil berumur tiga tahun lebih yang kini selalu membuat hari-harinya penuh tawa. Sang suami pun tampak sibuk menurunkan bahan-bahan kue yang baru saja dia beli dengan mobil barunya. Sementara, dua anak buahnya sibuk melayani pembeli dan empat anak buahnya di dapur tertawa karena Vivi anaknya, tengah bermain tepung.

Sekian


No comments:

Post a Comment