Te Ha eR yang TERTUNDA
Malam ini, Rina tidak sabar menunggu suaminya. Sudah H-7, biasanya Pak Bos akan memberikan
THR-nya. Dalam bayangan Ria, besok akan beli bahan-bahan kue kering. Rasanya
tidak sabar mencoba oven pemberian Bu Ida, tetangga sebelah rumah.
Yah, kemarin Bu Ida sudah pulang, suaminya sudah tidak kerja lagi . Sejak dipasang ring pada
jantungnya, mereka memilih tinggal di kampung. Rumahnya diberikan pada teman dekatnya untuk dirawat dan tempati.
"Mas, sudah di
mana?" tanya Rina pada suaminya, sudah jam delapan tapi belum pulang,
akhirnya Rina pun menelpon dia.
"Masih di jalan,
ada Ibu-Ibu pingsan, aku membantunya dulu."
Rina pun akhirnya
pasrah, jam sepuluh malam, akhirnya Ridwan sampai di kontrakan.
"Kok sampai jam
segini? Darimana? Ngapain? Mana THR?" todong Rina tanpa melihat wajah
sang suami yang tampak lelah.
"Kamu jangan
marah ya, duduk dulu, aku mau cerita."
Rina sudah punya
perasaan tidak enak, dan tebakannya betul. THR 800.000 yang biasanya ia terima,
telah diberikan pada Ibu hamil yang ditolong Ridwan. Katanya wanita itu datang
ke kota dengan suaminya karena mencari orang yang sudah menipu mereka.
Tadi mereka tidak
pegang uang sepeser pun, mau memberikan ponselnya anggap mereka menjual ponsel
itu. Tapi Ridwan menolak, karena hanya ponsel itu satu-satunya alat penghubung
mereka dengan keluarganya.
Rina pun diam,
bayangannya untuk membuat kue lebaran, dan mempraktekkan ilmu dari grup masak
yang diikutinya gagal.
"Aku ikhlas,
Mas. Aku masih bisa buat kue kering lebaran tahun depan kok. Yang penting,
orang yang kamu tolong tadi baik-baik."
"Maaf ya ... eh
tapi ini ada bahan-bahan kue, dikasih sama Bu Dewi. Katanya dia harus pulang,
tapi terlanjur beli bahan."
Rina pun menatap
bungkusan besar yang tadi diabaikannya. Segera dibuka, dan matanya langsung
membesar.
"Mas ... Mas ...
ini ada telur, gula, wisjman, coklat batang, terigu, keju. Alhamdulillah ya
Allah. Mas, ini harganya lebih dari 500.000, ya Allah, aku dapat THR dari
langit ya Allah." Ridwan yang tidak paham dengan perkataan istrinya hanya
bingung. Sementara Rina pun tertawa bahagia.
Paginya, berbekal
uang 40.000 ia ke pasar mau mencari nanas. Belum sampai ke pasar, dipanggil Bu
RT.
"Rin, sini
dulu!" teriaknya.
"Ada apa,
Bu?"
"Kamu sudah
dapat bantuan, kemarin? Yang sembako sama uang? Kok nggak terlihat di
kelurahan."
"Tidak dapat
pengumuman, Bu. Lagian, katanya yang orang yang masih kost tidak dapat."
"Kamu ini,
makanya bergaul sama tetanggamu. Untung suamimu itu ringan tangan. Ini sembako,
sama uangnya 400.000. Aku coret ya namamu, sudah dapat bantuan."
"Wah,
Alhamdulillah rejeki lagi Ya Allah," tangis Rina.
"Kamu mau
kemana?" tanya Bu RT lagi.
"Ke pasar beli
nanas, mau bikin kue kering, belajar, Bu hihihi," jawab Rina malu-malu.
"Itu ada nanas
empat besar-besar, bawa sana. Ini uang 100.000, nanti kasih aku nastarmu ya. Ga
usah banyak, yang penting rasa," kata Bu RT.
Rina pun benar-benar
kegirangan, membawa beras 15kg, juga uang. Tak lupa nanas, dia tiba-tiba
memiliki kekuatan super membawa barang-barang itu.
Hari itu dia sibuk
bikin selai nanas. Selama dua tahun menikah, mereka belum dikarunia anak. Tak
banyak peralatan dapur yang ia punya, karena hanya tinggal berdua. Tapi
sekarang dia punya mixer, blender, oven dan beberapa peralatan dapur lainnya.
Dia dapatkan gratis.
"Rin, ini aku
kasih gratis untuk kamu, kelak jika Allah ijinkan kamu sukses dengan
barang-barang ini. Jangan lupa berbagi, ingat di setiap rejeki yang kamu
terima, ada rejeki orang lain yang Allah titipkan di sana."
Rina masih ingat
pesan dari Bu Ida. Meski beda keyakinan, tapi dia selalu memberi suport yang
baik pada Rina. Bu Ida sendiri anaknya sudah besar-besar. Rumah mereka pun
ada dua. Tapi entah kenapa memilih pulang ke kampung untuk kesembuhan suaminya.
H-5 akhirnya pagi itu
Rina mulai bikin kue, sesuai tutorial yang diajarkan di grup. Akhirnya satu
hari itu dapat empat toples kue. Besoknya dia bikin lagi, sampai H-3 dia dapat
empat macam jenis kue kering. Masih ada bahan, dia pun mencoba membuat pie susu
yang diajarkan Bu Ida. Setiap habis buka puasa, Ridwan tak sabar mencicipi kue
buatan istrinya.
Pagi itu, masih ada
pie susu atau lontar. Ridwan pun sengaja membawa beberapa potong untuk diberikan
pada istri bosnya. H-2 istri si Bos menelpon Rina untuk memesan lontar, tiga.
Dengan penuh
semangat, wanita muda itu pun mulai menghitung modal dan laba yang harus dia
dapatkan. Setelah dia berikan harga perpiring, Bu haji malah memesan lagi 10
untuk hari raya. Buat hidangan tamu.
Semuanya berawal dari
situ, kini lima tahun sudah berlalu, Rina sudah memiliki toko sendiri, kue
lontar buatannya sudah terkenal, bahkan bisa untuk oleh-oleh.
Keikhlasan dari suami
istri, yang selalu berpikir berkat, atau rejeki itu sudah ditentukan Allah. Apa
yang ia berikan dengan ikhlas, Allah kembalikan langsung, bahkan berkali-kali
lipat.
"Ibu ..., awas
gosoong," teriak anak kecil itu membuyarkan lamunan Rina. Yah gadis kecil
berumur tiga tahun lebih yang kini selalu membuat hari-harinya penuh tawa. Sang
suami pun tampak sibuk menurunkan bahan-bahan kue yang baru saja dia beli
dengan mobil barunya. Sementara, dua anak buahnya sibuk melayani pembeli dan
empat anak buahnya di dapur tertawa karena Vivi anaknya, tengah bermain tepung.
Sekian


No comments:
Post a Comment