Tuesday, May 19, 2020

ANAK PELAKOR

Anaknya Pelakor


"Bang, aku udah gak sanggup ngurus anak kita. Aku titip dia sama kamu, ya. Aku sudah daftar jadi TKW sama bang Rohim," cerocosku saat mas Bayu baru saja membuka pintu rumahnya.

"Siapa, Pah?" Deg! Itu suara istrinya yang berteriak dari dalam. Dengan gegas mas Bayu meraih bayi yang ada di pelukanku. Mungkin takut aku lari setelah mendengar suara istrinya.

"Anakku. Anak kita, Ma," teriak mas Bayu tanpa mengalihkan pandangan dariku dan bayi di pelukannya.

"Apa kamu yakin menyerahkan anak ini padaku? Padahal dulu kamu begitu bersikeras ingin mempertahankannya," tanya mas Bayu.

"Aku terpaksa. Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan untuk anak ini. Kami sudah diusir dari kontrakan, anakmu bahkan belum minum susu hampir seminggu. Jangankan susu, bahkan makan pun aku hanya mampu membeli 2 hari sekali. Aku juga tidak bisa pulang pada keluargaku karena mereka sudah membuangku. Yah, keluarga mana yang masih mau menerima anaknya yang hamil dengan suami orang lain tanpa menikah. Aku tiba-tiba ingat satu hal, bukankah istrimu itu mandul? Lagipula dia anak kandungmu. Aku yakin dia akan baik-baik saja di sini," jawabku datar.

"Anak siapa, Pa?" tiba-tiba saja istri mas Bayu muncul. Sorot matanya seketika menatap nyalang padaku. Air mukanya seketika berubah merah padam.

"Mau apa lagi kamu kesini? Mau jebak suami saya lagi biar dapet duit? Tunggu kamu di sini!" teriaknya. Belum sempat aku menjawab, wanita itu sudah menghilang kembali ke dalam rumah.

"Nih duit! Mau duit berapa kamu? Nih! Ambil semuanya! Gak usah kamu balik-lagi ke sini! Gak usah kamj ganggu lagi keluarga saya!" teriaknya sambil melempariku dengan gepokan uang.

"Ma. Udah. Dia cuma mau pamitan," sela mas Bayu seraya memegangi lengan istrinya.

Sementara aku sibuk memunguti uang yang berhamburan ke sana kemari, mas Bayu sibuk menjelaskan entah apa pada istrinya agar lebih tenang.

Munafik jika aku menolak uang-uang ini. Aku sangat membutuhkannya. Berhari-hari aku mencari uang demi membeli susu anakku dan membayar hutang pada bank keliling yang sudah mengancam ini dan itu. Tapi ironis, karena pada akhirnya anakkulah yang menghasilkan uang sebanyak ini untukku.

"Bayi siapa ini, Pa? Apa dia ...?" tanyanya menggantung sambil menatapku dan bayi itu bergantian.

"Iya, Ma. Dia anak Papa. Papa harap Mama bisa menerima anak ini."

Mata wanita itu kembali menatapku penuh kebencian dan rasa jijik. Tapi berubah lembut seketika saat pandangannya mengarah pada bayiku. Sepertinya keputusanku tepat. Wanita itu pasti bisa menyayangi anakku. Mas Bayu pernah bilang mereka sempat hendak mengadopsi anak dari panti asuhan karena sudah belasan tahun menikah, namun masih belum mendapatkan keturunan. Dan kini ia bisa merawat anak kandung suaminya, pasti semua baik-baik saja.

Setelah selesai memunguti uang di tanah. Aku segera bangkit dan berbalik hendak pergi. Tapi tiba-tiba wanita itu memanggilku.

"Tunggu sebentar!" Ia kembali masuk ke dalam rumah, dan beberapa saat kemudian kembali dengan selembar kertas dan pena.

"Saya mau kamu buat surat pernyataan bahwa kamu tidak akan pernah kembali kesini untuk menjemput anak ini, ataupun mengatakan yang sebenarnya pada anak ini. Sejak hari ini, kamu bukanlah siapa-siapa untuk anak ini. Jika suatu hari nanti kamu melanggar, maka kamu bersedia untuk dituntut di pengadilan dan mengganti rugi semua biaya yang kami keluarkan selama merawatnya. Dan satu lagi, kamu tanda tangani di bagian yang aku tempeli materai ini," tunjuknya pada kertas yang baru aku pegang.

Sesaat aku menatap tak percaya pada wanita itu dan mas Bayu yang asik menimang-nimang bayi laki-laki dalam pelukan. Tapi, ya sudahlah. Ini bukan apa-apa. Yang penting hidup anakku terjamin. Toh setelah ini akupun akan pergi jauh dari negara ini. Sepertinya kemungkinan kecil kami dapat bertemu kembali suatu saat nanti. Dengan tanpa ragu aku menandatangani surat pernyataan yang aku tulis sendiri. Senyum penuh kepuasan terkembang dari bibir wanita itu dan mas Bayu.

Aku melangkah hendak mendekati mas Bayu dan mencium bayiku untuk terakhir kalinya. Namun gerakan reflek mas Bayu yang mundur menghentikan langkahku. Ia seakan takut aku kembali mengambil bayi itu.

Aku diam sesaat memantapkan hati, lalu mengangguk asal tanda permisi pada mas Bayu dan istrinya dengan raut wajah sedatar mungkin.

Aku segera berbalik dan keluar dari halaman rumah megah itu. Ada sakit yang teramat sangat di dalam sini yang sedari tadi kutahan. Kuhapus buliran bening yang akhirnya tertumpah deras di sudut mata dengan lengan blus yang sudah usang.

Setelah menjauh beberapa langkah dari gerbang, tubuhku luruh terjatuh di trotoar. Kakiku seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Tangisku semakin menjadi. Aku terisak dalam sesak dan marah yang menjadi satu.

Maafkan ibu, nak.


No comments:

Post a Comment