Anaknya Pelakor
"Bang, aku
udah gak sanggup ngurus anak kita. Aku titip dia sama kamu, ya. Aku sudah
daftar jadi TKW sama bang Rohim," cerocosku saat mas Bayu baru saja
membuka pintu rumahnya.
"Siapa,
Pah?" Deg! Itu suara istrinya yang berteriak dari dalam. Dengan gegas mas
Bayu meraih bayi yang ada di pelukanku. Mungkin takut aku lari setelah
mendengar suara istrinya.
"Anakku.
Anak kita, Ma," teriak mas Bayu tanpa mengalihkan pandangan dariku dan
bayi di pelukannya.
"Apa kamu yakin
menyerahkan anak ini padaku? Padahal dulu kamu begitu bersikeras ingin
mempertahankannya," tanya mas Bayu.
"Aku
terpaksa. Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan untuk anak ini. Kami sudah
diusir dari kontrakan, anakmu bahkan belum minum susu hampir seminggu.
Jangankan susu, bahkan makan pun aku hanya mampu membeli 2 hari sekali. Aku
juga tidak bisa pulang pada keluargaku karena mereka sudah membuangku. Yah,
keluarga mana yang masih mau menerima anaknya yang hamil dengan suami orang
lain tanpa menikah. Aku tiba-tiba ingat satu hal, bukankah istrimu itu mandul?
Lagipula dia anak kandungmu. Aku yakin dia akan baik-baik saja di sini,"
jawabku datar.
"Anak
siapa, Pa?" tiba-tiba saja istri mas Bayu muncul. Sorot matanya seketika
menatap nyalang padaku. Air mukanya seketika berubah merah padam.
"Mau apa
lagi kamu kesini? Mau jebak suami saya lagi biar dapet duit? Tunggu kamu di
sini!" teriaknya. Belum sempat aku menjawab, wanita itu sudah menghilang
kembali ke dalam rumah.
"Nih duit!
Mau duit berapa kamu? Nih! Ambil semuanya! Gak usah kamu balik-lagi ke sini!
Gak usah kamj ganggu lagi keluarga saya!" teriaknya sambil melempariku
dengan gepokan uang.
"Ma. Udah.
Dia cuma mau pamitan," sela mas Bayu seraya memegangi lengan istrinya.
Sementara aku
sibuk memunguti uang yang berhamburan ke sana kemari, mas Bayu sibuk
menjelaskan entah apa pada istrinya agar lebih tenang.
Munafik jika aku
menolak uang-uang ini. Aku sangat membutuhkannya. Berhari-hari aku mencari uang
demi membeli susu anakku dan membayar hutang pada bank keliling yang sudah
mengancam ini dan itu. Tapi ironis, karena pada akhirnya anakkulah yang
menghasilkan uang sebanyak ini untukku.
"Bayi siapa
ini, Pa? Apa dia ...?" tanyanya menggantung sambil menatapku dan bayi itu
bergantian.
"Iya, Ma.
Dia anak Papa. Papa harap Mama bisa menerima anak ini."
Mata wanita itu
kembali menatapku penuh kebencian dan rasa jijik. Tapi berubah lembut seketika
saat pandangannya mengarah pada bayiku. Sepertinya keputusanku tepat. Wanita
itu pasti bisa menyayangi anakku. Mas Bayu pernah bilang mereka sempat hendak
mengadopsi anak dari panti asuhan karena sudah belasan tahun menikah, namun
masih belum mendapatkan keturunan. Dan kini ia bisa merawat anak kandung
suaminya, pasti semua baik-baik saja.
Setelah selesai
memunguti uang di tanah. Aku segera bangkit dan berbalik hendak pergi. Tapi
tiba-tiba wanita itu memanggilku.
"Tunggu
sebentar!" Ia kembali masuk ke dalam rumah, dan beberapa saat kemudian
kembali dengan selembar kertas dan pena.
"Saya mau
kamu buat surat pernyataan bahwa kamu tidak akan pernah kembali kesini untuk
menjemput anak ini, ataupun mengatakan yang sebenarnya pada anak ini. Sejak
hari ini, kamu bukanlah siapa-siapa untuk anak ini. Jika suatu hari nanti kamu
melanggar, maka kamu bersedia untuk dituntut di pengadilan dan mengganti rugi
semua biaya yang kami keluarkan selama merawatnya. Dan satu lagi, kamu tanda
tangani di bagian yang aku tempeli materai ini," tunjuknya pada kertas
yang baru aku pegang.
Sesaat aku
menatap tak percaya pada wanita itu dan mas Bayu yang asik menimang-nimang bayi
laki-laki dalam pelukan. Tapi, ya sudahlah. Ini bukan apa-apa. Yang penting
hidup anakku terjamin. Toh setelah ini akupun akan pergi jauh dari negara ini.
Sepertinya kemungkinan kecil kami dapat bertemu kembali suatu saat nanti.
Dengan tanpa ragu aku menandatangani surat pernyataan yang aku tulis sendiri.
Senyum penuh kepuasan terkembang dari bibir wanita itu dan mas Bayu.
Aku melangkah
hendak mendekati mas Bayu dan mencium bayiku untuk terakhir kalinya. Namun
gerakan reflek mas Bayu yang mundur menghentikan langkahku. Ia seakan takut aku
kembali mengambil bayi itu.
Aku diam sesaat
memantapkan hati, lalu mengangguk asal tanda permisi pada mas Bayu dan istrinya
dengan raut wajah sedatar mungkin.
Aku segera
berbalik dan keluar dari halaman rumah megah itu. Ada sakit yang teramat sangat
di dalam sini yang sedari tadi kutahan. Kuhapus buliran bening yang akhirnya
tertumpah deras di sudut mata dengan lengan blus yang sudah usang.
Setelah menjauh
beberapa langkah dari gerbang, tubuhku luruh terjatuh di trotoar. Kakiku seakan
tak sanggup lagi menopang berat tubuhku. Tangisku semakin menjadi. Aku terisak
dalam sesak dan marah yang menjadi satu.
Maafkan ibu,
nak.

No comments:
Post a Comment